Lab Sains Top Taiwan Didenda karena Pekerjanya Terinfeksi Covid-19

Setelah asisten peneliti di Genomics Research Center terinfeksi virus corona (Covid 19) pada akhir 2021, kini institusi akademik paling bergengsi di Taiwan, Academia Sinica akhirnya didenda karena pelanggaran keamanan hayati. Selama konferensi pers yang diadakan pada pekan lalu, Menteri Kesehatan Taiwan Chen Shih chung, yang juga mengepalai Pusat Komando Epidemi Pusat (CECC) negara itu mengatakan bahwa akademi tersebut akan didenda 150.000 dolar Taiwan atau setara 5400 dolar Amerika Serikat (AS) terkait insiden yang dilaporkan sebagai yang terbesar di dunia itu. Ini merupakan kasus infeksi pertama Covid 19 yang terjadi di laboratorium penelitian.

Dikutip dari laman Sputnik News, Jumat (28/1/2022), seorang Ahli Virologi di Institut Biologi Molekuler Academia Sinica, Michael Lai yang dikutip dalam laporan tersebut menyampaikan, kasus itu menyiratkan bahwa pengawasan di laboratorium 'tidak cukup ketat'. Menurut pernyataan Academia Sinica, pekerja yang terinfeksi serta supervisornya itu mengaku telah meninggalkan lab tepat sebelum dinyatakan positif terinfeksi. Bahkan pekerja tersebut rela mengundurkan diri pada 3 Desember lalu.

Sedangkan supervisornya, Jan Jia Tsrong mengatakan ia pensiun pada 1 Desember lalu dan mengklaim bahwa pensiunnya telah direncanakan jauh sebelum kejadian karena terkait dengan usia serta kondisi kesehatannya. Ia telah bekerja dengan hewan yang terinfeksi, dan urutan virusnya diduga cocok dengan strain varian Delta yang dikirim ke laboratorium oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Taiwan. Namun tidak dengan strain Delta yang ditemukan dalam populasi dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut laporan tersebut, pada 9 Desember 2021, saat CECC menerbitkan kasus itu, kondisi pekerja dan supervisor itu tersebut telah membaik. Lalu 110 kontak erat dan 373 orang yang memiliki hubungan dengan kasus tersebut semuanya dinyatakan negatif. Selanjutnya pada bulan yang sama, CDC negara itu mempresentasikan laporan tentang insiden tersebut, menyimpulkan bahwa pekerja dan supervisor itu mungkin terinfeksi karena menghirup virus yang ada di laboratorium atau melepas Alat Pelindung Diri (APD) dalam urutan yang tidak benar, dimulai dengan masker wajahnya.

CECC pun dikabarkan menyoroti berbagai masalah di lab itu sebagai tanggapan atas kesimpulan komite investigasi eksternal. Pernyataan tersebut mengklaim bahwa staf yang terlibat dalam penelitian itu tidak mengenakan pakaian hazmat, masker N95, sarung tangan ganda, kacamata maupun penutup sepatu, serta tidak mengikuti prosedur untuk menggunakan lemari biosafety atau melepas APD. Pelatihan staf lab pun dianggap tidak cukup, karena komite keamanan hayati Academia Sinica tidak melakukan audit yang cukup atau melacak pelatihan dan penilaian bagi karyawan baru.

Yang cukup menarik adalah supervisor bernama Jan itu telah melewati cobaan serupa dengan terinfeksi virus yang terkait erat dengan SARS CoV 2 saat ini. Ia dilaporkan terinfeksi virus yang menyebabkan sindrom pernafasan akut parah (SARS) pada 2003 silam, saat bekerja di Institut Kedokteran Pencegahan Pusat Medis Pertahanan Nasional, kira kira 6 bulan setelah wabah penyakit di seluruh dunia dinyatakan selesai. Saat itu, Taiwan, bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadopsi langkah langkah keamanan hayati baru setelah insiden tersebut.

Di sisi lain, supervisor itu meyakini bahwa kecelakaan di lab tidak akan pernah bisa sepenuhnya dihindari. Sementara menurut Sosiolog di King's College London yang berspesialisasi dalam masalah biosekuriti, Filippa Lentzos, agak 'mengejutkan' bahwa tidak ada lagi kasus wabah laboratorium yang dilaporkan terjadi belakangan ini, padahal personel di banyak laboratorium di seluruh dunia sedang menangani atau menyelidiki virus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post POPULER Internasional: 39 Pesawat Tempur China Masuk Taiwan | Studi Vaksin Dosis Keempat di Israel
Next post Kunci Jawaban Buku Tematik Tema 7 Kelas 4 SD Halaman 59 60 61 62: Pola Lantai Gerak Tari